Tempat pemberhentian bus antar kota antar provinsi adalah tempat istirahat bagi sopir dan semua penumpang. Makanan dan minuman yang disediakan disini sudah termasuk dalam tiket ongkos perjalanan, sehingga semua bisa makan sepuasnya. Nasi hangat yang harum baunya, berbagai ikan laut dihidangkan dibakar atau digoreng lengkap dengan sambal khas Sumbawa dan lauk pauk tempe, tahu terhidang pada piring-piring besar. Semua makanan ditata rapi diatas sebuah meja panjang yang tingginya hanya 30 - 40 cm, tanpa kursi. Semua duduk bersama diatas tikar yang dianyam tebal.
Luki membayangkan dirinya sedang berada di istana raja. Entah sebagai raja atau apa yang penting baginya adalah makanannya. "Ah andai aku seorang raja rek,..." dalam hati Luki berharap sambil meneruskan makan Plecing Ayam Taliwang yang terkenal itu. Lalu meneruskan pada santapan berikutnya, Sepat Ikan dan Sate Ampet. Sudah menghabiskan tiga hidangan itu, tiba-tiba Aisah menarik lengannya untuk menjauh dari meja makan.

Luki memprotesnya bahkan ia berani untuk bayar kelebihan harga makanan yang ingin dicobanya. Tapi Aisah dengan tegas tetap melarang, "Nanti kalo mules di tengah jalan, bagaimana? bus itu tak ada fasilitas WC kan!".
Pemuda teman sekampusnya ini memang doyan makan, kalau sedang suka pada satu makanan ia bisa bolak-balik membelinya. Biasanya satu atau dua minggu kalau lagi suka Luki tidak akan pindah warung. Kecuali ada pekerjaan yang sedang digarapnya, ia sering lupa makan. Sambil kuliah Luki juga mengerjakan beberapa bisnis kecil-kecilan. Mulai dari jual beli motor hingga makelar tanah, dari membuat software hingga maintenance jaringan komputer perusahaan atau dari usaha bertani cabe hingga penangkapan ikan laut. Semua usaha dicobanya sampai ia merasa puas. Beberapa kali gagal dan ditipu orang tapi hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk mencoba sesuatu yang baru.
Luki memang tak setampan asisten dosen yang juga naksir padanya. Juga tidak sekaya Hendri anak majikan dimana Aisah bekerja. Tapi pada diri Luki semua dirasanya ada. Luki bisa membuatnya merasa tinggi melambung, itu ketika Luki memuji suara Aisah menyanyi atau ekspresinya berpuisi. Luki juga bisa membuatnya merasa cemburu, seperti ketika Luki tiba-tiba mengumpulkan tiga cewek dan mencoba mendirikan grup orkes dangdut. Padahal namanya dijadikan nama grup itu Orkes Melayu Aisah.
Sambil mengemasi tas dan minuman botol serta beberapa makanan ringan, Aisah bersyukur karena Luki suka dengan makanan khas Sumbawa, makanan kesukaannya juga. Dalam hatinya Aisah juga berharap dalam hati "...semoga Ayah dan Ibu juga cocok dengan pemuda pilihanku ini ...."


